Membuat Momentum, Melunasi Janji
Kalau saya boleh menerjemahkan
rumusan tersebut dalam konteks organisasi mahasiswa di kampus ini seperti Senat
Mahasiswa (SEMA), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan
(HMJ), Unit Kegiatan Khusus (UKK), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Konsulat
Mahasiswa (Kosma), atau sebutan lainnya, maka massa bisa diterjemahkan dengan,
misalnya, pimpinan kampus, tenaga pengajar, staf, karyawan dan pegiat
organisasi mahasiswa itu sendiri. Dalam konteks organisasi mahasiswa tentu yang
terutama (yang saya maksud) adalah pegiat organisasi mahasiswa. Sedangkan
kecepatan adalah respon, upaya dan tindakan yang mempercepat dan menunjang terjadinya
berbagai akselerasi perubahan menuju kampus yang lebih baik; terutama dalam
mewujudkan visi-misi dan tujuan kampus sebagai payung organisasi mahasiswa.
Nah,
kalau kita mengikuti rumusan di atas, atau jika kita ingin menciptakan
momentum, maka rumusannya adalah perbanyaklah kuantitas dan kualitas massa,
yaitu orang-orang yang memiliki impian besar, berpikir positif, memiliki
kompetensi, mampu mengelola potensi diri, dan siap bekerja dalam tim yang
solid; lalu bersamaan dengan itu kita mampu memperluas sekaligus perbesar tingkat
akselerasi kita dalam banyak hal, terutama dalam hal pengetahuan, wawasan,
kepemimpinan, keorganisasian, manajemen, jaringan, memetakan sumber daya atau
orang, dan kemampuan eksekusi, termasuk dalam mengelola aspirasi dan menjalankan
mandat mahasiswa.
Sebagai
penegasan, rumusan momentum itu sendiri bukanlah massa ditambah kecepatan, tetapi
massa dikali kecepatan. Itu artinya, satuan kekuatan kita sebagai seorang
pegiat organisasi mahasiswa bukan ditambah dengan satuan pegiat lainnya,
melainkan seorang dan seorang lainnya—yang tentunya bukan satu atau dua orang (super man) tapi banyak orang (super
team)—digandakan sehingga berlipat
ganda dalam sebuah sistem organisasi yang solid, terkelola dan akseleratif
dalam menghadirkan perubahan di tengah kehidupan masyarakat kampus.
Oleh
karena itu, setiap kita mesti banyak membaca referensi (buku, tulisan) dan
rajin mencari teman lalu berdiskusi dengan mereka yang berpengalaman, sehingga
kita mampu merancang suatu mekanisme yang modern dan mampu mendesain proses
regenerasi pegiat berbagai organisasi di kampus kita ini secara utuh: dirancang
secara heroik (psikomotorik), menjiwai hingga tingkat kesadaran yang tinggi
(afektif), dan memantik daya pikir (kognitif) para pegiat itu pada persoalan
dan kemampuannya menjadi penuntas masalah (problem
solver), bukan sekadar penebar
masalah (problem speaker), atau malah menjadi pembuat masalah (problem maker).
Kerja-kerja
ini akan berhasil jika ia ditopang dengan sistem organisasi yang terpadu di
semua aspeknya, baik dari sisi aturan, tata keorganisasian, peta kerja, sumber
dana (keuangan), jaringan, kecepatan menanggapi persoalan (tidak sekadar cepat
bersikap), kemampuan menjaring gagasan, kemampuan mengelola keragaman potensi dan
daya dukung lainnya secara operasional.
Dalam
konteks itu, terutama dalam konteks organisasi mahasiswa di IAI BBC, saya
berpandangan bahwa proses vertikalisasi sumber daya organisasi (baca: pegiat),
mestinya juga menjadi pola kultural yang kita kembangkan dan lakukan secara
masif. Lebih praktis, misalnya, pelibatan mahasiswa yang tak begitu aktif dalam
berbagai kegiatan mahasiswa, di samping menjadikan mahasiswa (yang masih baru)
sebagai panitia dalam berbagai kegiatan organisasi yang ada di kampus kita ini.
Selain
mempercepat proses pematangan aspek organisasi dan kepemimpinan, pola seperti
ini juga akan menambah pengalaman juga akselerasi pegiat organisasi yang ada. Dengan
begitu, kelak tak ada lagi yang kagetan
atau risih dengan berbagai kerumitan, dinamika bahkan konflik organisasi.
Justru itu semua akan dijadikan sebagai media pematangan kompetensi sekaligus modal
besar bagi mereka dalam memandang masa depan organisasi, bahkan di saat kelak
mereka hidup dan bergulat di masyarakat luas, bangsa dan negara tercinta
Indonesia.
Saya
sangat percaya bahwa kita semua adalah pembelajar yang—secara jujur mesti
diakui—masih membutuhkan banyak pengetahuan, pengalaman dan tantangan yang
membuat kita semakin kaya perspektif, matang dan tahan banting dalam
menjalankan dan memahami dinamika juga keragaman potensi dalam organisasi.
Untuk itu, sekali lagi, kita mesti banyak membaca, di samping terbiasa untuk menempatkan
orang lain secara manusiawi dalam segala makna dan aspeknya, termasuk menularkan
kemampuan dan potensi kita masing-masing, sehingga menjadi pemicu sekaligus
pemacu bagi yang lain untuk melakukan tindakan produktif, terutama di saat
menghadapi kerumitan dan perbedaan atau dinamika yang dialami dalam organisasi yang
kita geluti.
Kerja
kita sekarang dan ke depan, adalah, melakukan objektivikasi atau aksi nyata atas
semua ide baik yang kita miliki dalam sistem dan mekanisme organisasi yang
lebih maju dan kegiatan oragnisasi yang lebih praktis, sehingga memiliki efek
positif dari berbagai sisi, bukan saja bagi kita sebagai pelaku organisasi yang
kita geluti, tapi juga untuk seluruh keluarga besar civitas akademika atau
kampus yang kita cintai ini, bahkan masyarakat luas.
Sungguh,
saya sangat percaya bahwa semua itu akan menjadi kenyataan manakala kita mampu
mengejahwantahkan rumusan tadi dalam kerja ril, yaitu: meningkatkan kompetensi
diri, melahirkan generasi baru yang kompeten, akseleratif dalam merumuskan tata
organisasi, cerdas dalam merencanakan kegiatan, dan progresif dalam mempelajari
berbagai hal serta mampu mengkoneksikan berbagai potensi dan kepentingan dari
beragam organisasi mahasiswa yang kita miliki di kampus ini.
Apa
yang kita bicarakan, rencanakan dan lakukan dalam berbagai kegiatan organisasi adalah
cara terbaik dalam melunasi janji-janji kita di hadapan mahasiswa beberapa
waktu lalu. Bukan saatnya lagi bagi kita untuk memperbesar perbedaan, sebab
kita memang berbeda-beda dalam segala aspeknya: pengalaman, karakter dan
kebiasaan. Tapi percayalah, dalam keragaman itu kita semua masih memiliki mimpi
yang sama, yaitu memajukan kampus tercinta IAI BBC. Kini saatnya menyisihkan
ego pribadi, melepas tendensi yang tak bermanfaat, dan melampaui dinamika yang
tak produktif; sebab tugas kita kini dan ke depan terlalu banyak. Jangan sampai
mandat mahasiswa yang sesaat ini hanya kita isi dengan berbagai sikap dan
tindakan yang sia-sia: kemarahan, kebencian, ketersinggungan dan jalan tanpa
arah.
Saya
dan tentu saja kita semua sama-sama berharap agar seluruh niat baik, upaya saling
menasihati dan ketulusan menebar saran bahkan kritik dapat membuka kebekuan,
membongkar kebuntuan sekaligus mencerahkan pikiran dan cara pandang kita semua
dalam memahami organisasi dan menjalankan mandat mahasiswa yang ada di kampus
tercinta ini.
Sungguh,
kita semua memiliki impian, agar kelak secara bersama kita bisa menjalani
aktivitas organisasi dengan baik, penuh pengorbanan, saling memahami, penuh
pengertian, bernyawa persahabatan dan mengedepankan azas kekeluargaan. Kalau
ada keringat, air mata, dan hati serta perasaan yang terlukai—yang pernah membersamai
kita selama di organisasi—maka percayalah semua itu adalah saksi paling jujur
bahwa kita pernah menanam kebaikan di kampus ini. Biarlah semua itu menjadi saksi
dan kisah yang kita kenang kelak, bahwa kita pernah bersama. Selebihnya,
percayalah apapun yang kita lakukan dan alami tak pernah luput dari pengetahuan
Allah. Semuanya terrekam dalam catatan malaikat-Nya.
Mari
membangun kesadaran diri, membuka mata hati, lalu segeralah saling meminta dan
memberi maaf, merajut persahabatan dan memupuk suasana kekeluargaan, serta
memperkuat kembali soliditas organisasi kita. Semoga dengan begitu, kelak kita bisa
mengenang dan bercerita penuh ceria tentang banyak hal tentang kita semua
dengan segala keragaman potensi, kesan dan pengalamannya. Bukan saja tentang si
dia yang mungkin kini mendekat dan menyimpan harap pada kita, atau tentang si
dia yang kelak ditakdirkan menjadi milik kita; tapi juga tentang si dia yang kerap
berbeda dengan kita, namun selalu memiliki doa dan harapan terbaik untuk kita.
Akhirnya, selamat membuat momentum agar mampu melunasi janji! [Oleh: Syamsudin
Kadir—Ketua SEMA KBM IAI BBC Periode 2016-2017 dan Pegiat PENA IAI BBC. Tulisan ini akan disampaikan
pada pembukaan acara Rapat Koordinasi Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan
Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Institut Agama Islam Bunga
Bangsa Cirebon (IAI BBC) Pada Ahad 5 Februari 2017 di Kampus IAI BBC,
Tuparev-Cirebon]
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment