BANGKITLAH PEMUDA-MAHASISWA INDONESIA!
BANGKITLAH
PEMUDA-MAHASISWA INDONESIA!
(Sebuah Refleksi dan Catatan untuk
Pemuda-Mahasiswa)
SEJARAH perjalanan bangsa Indonesia sejak tahun 1908 telah mencatat
adanya Boedi Oetomo, dilanjut dengan peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928, yang
terus berlanjut hingga tercapainya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Sementara pada 1975 sejarah mencatat pula terjadinya peristiwa Malari, dan pemuda-mahasiswa
terus berjuang dan bergerak hingga 1978 di zaman asas tunggal, yang lantas memuncak
di tahun 1998 yang telah memunculkan reformasi.
Dalam perjalanannya, peran pemuda-mahasiswa termasuk dalam mendesakkan
reformasi di berbagi bidang banyak menghadapi berbagai kendala dan tantangan. Namun
semua itu tidak menyurutkan mereka untuk menghadirkan berbagai perubahan dalam
berbagai skala dan levelnya dalam sejarah bangsa. Jadi, secara de facto,
pemuda-mahasiswa telah berkontribusi dalam upaya mendesak perubahan di
belantika nusantara, termasuk pasca reformasi ini.
Namun demikian setelah belasan tahun usianya, penting untuk melakukan
evaluasi fundamental pergerakan yang selama ini telah dikembangkan.
Perkembangan mutakhir ini mau tidak mau menuntut semua pihak untuk berani
menawarkan narasi baru yang berbeda dengan bangunan narasi yang kini menjadi
teori klasik. Narasi baru ini harus didialektikakan di lapangan baik dalam uji
pemikiran maupun dalam implementasi. Hal ini penting untuk menemukan realitas
baru dalam rangka membangun bangsa dan gerakan pemuda-mahasiswa yang lebih
mencerahkan.
Oleh karena itu dalam konteks gerakan, sebuah kepentingan mendesak bagi
pemuda-mahasiswa untuk tidak bergerak dalam pola yang tunggal semisal bersifat
vis-a-vis, melainkan mengujicobakan dalam pola-pola yang lebih variatif dan
menekankan bobot intelektual. Namun demikian, hal ini bukan berarti meninggalkan karakter khasnya yang
dikenal tegas dalam bersikap.
Sebagai organ yang memiliki orientasi
sekaligus spirit kepemimpinan dan perubahan, sikap ini harus terinternalisasi
bersamaan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi basis pijakannya. Sebab
tantangan kepemimpinan masa depan adalah perubahan, kompleksitas, dan keragaman
yang hanya dapat dilihat oleh kapasitas pengetahuan.
Sebagai gerakan moral, pemuda-mahasiswa harus selalu berpijak pada
prinsip dan fatsun gerakannya. Dalam hal ini pemuda-mahasiswa harus
melakukan objektifikasi nilai-nilai gerakannya dalam public reason
(logika umum) yang dapat diterima secara luas. Untuk itu, kematangan berdiskusi
dan tradisi ilmiah lainnya seperti menulis dan penelitian mesti dimasifkan.
Dengan begitu, pemuda-mahasiswa tidak mati kutu di hadapan publik atau
masyarakat luas dengan segala kompleksitas permasalahannya.
Dalam koridor teks dan konteks ini, termasuk dalam memakna refleksi
Sumpah Pemuda hari ini (28 Oktober 1928-28 Oktober 2017), pemuda-mahasiswa
dapat mengembangkan pola-pola pergerakan yang lebih kreatif dan kontributif
bagi solusi persoalan bangsa yang dihadapi bersama dengan tidak meninggalkan
karakter gerakannya sebagai kekuatan rasional-progresif. Tak ada lagi pemuda-mahasiswa
yang anti terhadap kritik, sebab mereka mestinya membiasakan dirinya untuk
mengambil manfaat dari keragaman komunitasnya. Di samping itu, tak boleh ada
lagi pemuda-mahasiswa yang cengeng, sebab mereka mestinya sibuk untuk
mematangkan kedewasaannya. Dengan begitu, mereka mampu mencari titik temu dari keragaman pola pergerakannya.
Citra gerakan pemuda-mahasiswa yang lebih melekat sebagai gerakan demontran
harus bertransformasi diri menjadi citra referensi gerakan kebangsaan. Dalam
hal ini, pemuda-mahasiswa harus bertransformasi diri dari agent of change
menjadi director of change. Dari semata agen perubahan menjadi pengarah
perubahan. Pemuda-mahasiswa turut bertanggung jawab atas arah perjalanan
reformasi bangsa ini, agar perjalanan atau proses lanjutannya tetap menuju ke arah
yang jelas, bukan tertatih-tatih atau malah dipersimpangkan oleh mereka yang
bermental penjajah sekaligus budak asing. Inilah yang harus direnungkan dan
dilakukan oleh pemuda-mahasiswa dalam menghadapi situasi kebangsaan dan
dunia-global yang terus dinamis dan nyaris tak terprediksikan ini. Selamat
berjuang pemuda-mahasiswa, selamat berjuang pemuda-mahasiswa Indonesia. []
[1] Penulis ratusan
essai-artikel di berbagai Surat Kabar, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di
RCTV dan aktif sebagai Pegiat PENA di Institut
Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC), Jawa Barat.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment